|
-=WHO'S ONLINE=- |
Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sloki/user/t69880/sites/jalal-center.com/www/modules/mod_whosonline.php on line 32
|
|
wellcome to kang jalal official web site - kangjalal@jalal-center.com
|
| |
| |
|
|
RASULULLAH PENEBAR BERKAH KH. Jalaluddin Rakhmat
Pada suatu saat, Rasulullah saw berwudhu. Segera sesudah itu, para sahabat sibuk memperebutkan bekas air wudhu Nabi yang mulia. Ketika menceritakan hal ini, Imam Bukhari sampai menulis: “Para sahabat bahkan hampir berkelahi untuk memperoleh bekas air wudhu Rasulullah itu.” (lihat Shahîh Bukhâri 1: 59105 dan Fathul Bâri 1: 256-408)
Dalam fikih, sebagaimana kita ketahui, air bekas dipakai atau air musta’mal tidak boleh dipakai lagi untuk berwudhu kecuali, menurut Imam Syafii, air bekas wudhu Rasulullah saw. Meskipun merupakan air musta’mal, air itu tetap bisa dipakai berwudhu.
Mengapa para sahabat berebut untuk memperoleh bekas wudhu Rasulullah saw—sampai sahabat lain yang tidak kebagian pun menggesekkan tangannya kepada tangan orang lain yang mendapat air wudhu bekas Rasulullah saw? Karena mereka percaya bahwa bekas sentuhan tangan Rasulullah saw yang suci itu mampu mendatangkan berkah.
|
|
Read more...
|
|
|
HIJRAH DAN RAHBANIYYAH KH. Jalaluddin Rakhmat
Pada suatu hari, kata Abdullah ibnu Mas’ud, “aku sedang menyertai Rasulullah saw yang sedang mengendarai keledainya. Ia memanggilku: ‘Hai Ibnu Ummi ‘Abd, tahukah kamu dari mana Bani Israil mengadakan tradisi kependetaan?’ Aku menjawab: ’Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Ia bersabda lagi: ‘Setelah Nabi Isa as, muncullah para tiran.’
Mereka melakukan penentangan kepada Allah. Orang-orang yang beriman marah. Mereka memerangi para tiran itu, tetapi kalah, sampai tiga kali. Tidak tersisa dari orang-orang beriman itu kecuali sedikit saja. Mereka berkata: ‘Perlawanan kita terhadap mereka telah membinasakan kita. Nanti tidak tersisa lagi seorang pun yang memanggil manusia kepada agama. Marilah kita berpisah dan menyebar di bumi sampai Allah membangkitkan seorang Nabi yang dijanjikan kepada Isa as, yakni Muhammad saw.’
|
|
Read more...
|
|
|
SYAFA'AT; BUAH CINTA AHLUL BAIT NABI KH. Jalaluddin Rakhmat
Dalam Al-Quran surat Al-Syura, Allah swt berfirman: Barangsiapa yang menginginkan keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menginginkan keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia. Dan tidak ada baginya suatu bagian pun dari akhirat.
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang pedih.
Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.
|
|
Read more...
|
|
|
BERDOA DENGAN BISIKAN CINTA KH. Jalaluddin Rakhmat
Doa adalah percakapan antara seorang hamba kepada Tuhan, antara seorang kekasih kepada yang dikasihinya. Kata doa berasal dari kata dâ’a, yad’u, du’âan atau da’watan; yang berarti undangan, seruan, atau panggilan.Ketika berdoa, kita memanggil Tuhan dan Tuhan pun memanggil kita. Pada hakikatnya berdoa adalah saling memanggil antara sepasang kekasih.
Adab Berdoa Dalam berdoa, kita harus memiliki adab-adab tertentu di hadapan Allah swt. Nabi Isa as pernah bersabda, “Janganlah kamu berkata bahwa ilmu itu ada di langit, sehingga yang naik langitlah yang akan mendapat ilmu itu; dan janganlah pula kamu berpikir ilmu itu ada di perut bumi, sehingga siapa saja yang masuk ke dalamnya akan memperoleh ilmu. Ilmu itu tersembunyi di dalam hati nuranimu. Beradaplah di hadapan Allah dengan adab kaum ruhaniyyin. Berakhlaklah di hadapan Allah dengan akhlak kaum shiddiqin. Kelak ilmu itu akan memancar dari hatimu. Allah akan memberikan ilmu itu kepadamu dan memenuhi hatimu dengannya...”
|
|
Read more...
|
|
|
KONSEP DIN DAN ISLAM: EKSKLUSIF DAN INKLUSIF (I) KH. Jalaluddin Rakhmat
”Dan barangsiapa menganut Dîn selain Islam, maka sekali-kali ia tidak akan diterima daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali Imran 85).
Berdasarkan Ali Imran ayat 85, ada dua pandangan yang berbeda tentang kriteria agama yang benar. Sebagian besar mufasir menjelaskan bahwa agama yang benar, din al-haqq adalah dan hanyalah Islam. Agama apa pun selain Islam ditolak. Termasuk kepada kelompok ini adalah Dr Aflatun Muchtar, dalam bukunya Konsep Din dalam Al-Quran, ia menulis,
Bertolak dari konsep dîn al-haqq di atas, maka din itu dapat dibedakan menjadi dua: dîn al-haqq, yaitu Islam yang membawa ajaran dasar tauhid, akhlak, dan ajaran yang berhubungan dengan aspek jiwa, akal, materi, dan sosial dan din yang dianut orang-orang Yahudi dan Nasrani yang juga mengklaim diri sebagai pengikut dîn al-haqq dan golongan lain yang telah mengubah petunjuk-Nya dengan mereka. Mereka yang disebut terakhir, secara prinsip telah mengubah hakikat din yang benar. Oleh karena itu, Allah memberikan penegasan bahwa siapa saja yang menganut dîn selain Islam akan tertolak dan mereka itu di akhirat akan digolongkan sebagai orang-orang yang merugi.
|
|
Read more...
|
|
|
KONSEP DIN DAN ISLAM: EKSKLUSIF DAN INKLUSIF (II) KH. Jalaluddin Rakhmat
Tiga tingkatan Islam yang diuraikan Al-Mushtafawi, sekali pun ia penulis kamus, lebih bersifat esoteris ketimbang linguistis. Tetapi, baik Al-Isfahani maupun al-Mushtafawi, menyebutkan tingkatan Islam itu karena menghadapi kemusykilan makna Islam dalam ayat-ayat yang berlainan dalam Al-Quran. Pada satu sisi, kata Islam dipergunakan dalam posisi lebih rendah dari iman; seperti “islam”-nya orang Arab Badwi. Pada sisi lain, kepada Ibrahim yang sudah jelas-jelas Muslim, Tuhan menyuruhnya untuk Islam lagi. Tentulah Islam yang kedua ini lebih tinggi dari Islam yang pertama. Pada Al-Mushtafawi, kata Islam dalam menunjukkan tingkat Islam yang paling tinggi; yakni, dalam istilah irfan, ketika orang sudah meninggalkan al-katsrah dan tiba di al-wahdah.
Walhasil dengan merujuk pada kamus-kamus itu, segera kita ketahui bahwa orang yang mengatakan bahwa bukan Muslim tidak diterima amalnya mengacaukan makna Islam dalam berbagai tingkatannya. Kata Islam dalam Inna al-Dîn ‘ind Allâh al-Islâm menunjukkan Islam yang tinggi, Islamnya Ibrahim as, bukan Islam seperti tercatat dalam kartu penduduk. Dan Islam pada tingkatan itu boleh jadi meliputi semua pengikut agama. Dalam tulisan Muthahhari, inilah Islam waqi’i sebagai lawan dari Islam geografis.
|
|
Read more...
|
|
| |
|
| |
|
|
-=NEWSFLASH=- |
|
|
|
|
-=ARSIP=- |
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
-
January, 2008
-
December, 2007
-
November, 2007
-
October, 2007
-
September, 2007
-
August, 2007
-
July, 2007
|
|
-=VISITOR=- |
| Today | 67 | | Yesterday | 84 | | Week | 151 | | Month | 441 |
| | |
|